Benteng Pendem Ambarawa

Benteng Pendem Ambarawa, Menikmati Sisa Kejayaan Bangunan Kolonial Belanda

Ada banyak cara menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga, sahabat dan teman-teman. Beragam destinasi wisata menjadi salah satu tempat rekreasi, tak perlu ketempat-tempat wisata yang relatif jauh dan membutuhkan kocek dalam-dalam untuk sampai ketempat tersebut. Salah satu alternatif wisata sejarah yang memiliki nilai historis dan desain khas bangunan zaman kolonial Belanda dapat ditemui di benteng pendem Ambarawa yang terletak di kompleks militer Angkatan Darat  Jalan Raya Sanggarahan Ambarawa.

Perjalanan dari Yogya menuju Ambarawa dapat ditempuh kurang lebih 2 jam. Meski tak sepopuler obyek wisata kereta museum Ambarawa, nyatanya benteng pendem Ambarawa saat ini mulai banyak dikunjungi beberapa wisatawan dari dalam dan luar kota yang tertarik menyaksikan kemegahan benteng pertahanan yang dibangun pada masa pemerintahan King Willem.

Menemukan lokasi benteng pendem terbilang tidak mudah bagi masyarakat awam. Mengingat letaknya yang menjorok kebagian dalam kompleks AD Ambarawa membuat benteng berusia hampir 2 abad ini tidak terlihat dari arah jalan raya Ambarawa-Banyubiru. Terlebih disekliling benteng terdapat area persawahan dan pemandangan asri khas pegunungan yang membuat benteng pendem Ambarawa kian tersembunyi.

Benteng Pendem Ambarawa

Benteng Pendem Ambarawa

Bagi masyarakat yang memiliki wisata minat khusus menikmati bangunan-bangunan kolonial Belanda rasanya sayang untuk melewatkan wisata sejarah benteng pendem Ambarawa yang memiliki nilai historis yang panjang. Berbeda dengan area wisata pada umumnya, sebelum memasuki area wisata benteng pendem terlebih dahulu harus melaporkan diri pada petugas penjaga pos militer Batalyon Kavaleri 2 Ambarawa. Wisatawan harus meninggalkan kartu tanda pengenal kemudian diperbolehkan masuk kearea benteng tanpa perlu membayar retribusi masuk keaera wisata ini. Bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan roda empat, petugas pos penjagaan akan meminta untuk membuka seluruh kaca jendela pada mobil untuk kepentingan keamanan.

Tak jauh dari lokasi pos penjagaan, wisatawan memasuki kompleks militer AD yang asri lengkap dengan area persawahan yang hijau dan suasana pegunungan yang sejuk. 200 meter kemudian sebuah benteng kuno warisan VOC terlihat kokoh berdiri menyambut para wisatawan yang kala itu ingin berwisata dan menikmati sisa-sisa kejayaan benteng yang dikenal dengan sebutan benteng Fort Willem 1.

Sama seperti bangunan benteng yang kerap dijumpai dibeberapa tempat, benteng ini dibangun dengan prinsip pertahanan yang kuat yang berguna sebagai pertahanan dari serangan musuh. Hal ini terlihat dari bangunan parit mengelilingi benteng yang dimaksimalkan untuk upaya pertahanan. Selain itu, benteng pendem Ambarawa memiliki desain yang berbeda dengan banyak jendela dibeberap bagian. Desain jendela menggambarkan arsitektur Art Deco yang menggabungkan unsur geometrik seperti garis lengkung pada bangunan. Bangunan terbagi menjadi dua bagian yang dulunya diyakini sebagai tempat tinggal ( barak atau kamp) militer tentara KNIL dan penyimpanan logistik militer.

Pada sisi bagian timur benteng saat ini dijadikan rumah dinas tentara AD dikompleks militer Ambarawa sedangkan pada sisi barat tidak digunakan sebagai tempat tinggal. Jendela-jendela besar tersebut disemen dan digunakan untuk sarang burung walet. Bangunan benteng ini memiliki dua lantai. Benteng yang dulunya pernah menjadi tahanan anak-anak kemudian berubah fungsi menjadi tahanan dewasa dan kini menjadi rumah dinas ini memiliki RT, RW yang masuk daam kelurahan Lodoyong Ambarawa.

Benteng Pendem Ambarawa

Benteng Pendem Ambarawa

Meski terbilang tidak layak sebagai sebuah tempat tinggal karena tingkat kelembapan yang tinggi sehingga memudahkan lumut berkembangbiak menutupi sebagian tembok benteng yang kian rapuh dan lapuk ini nyatanya warga setempat tetap merasa nyaman tinggal dibekas bangunan kolonial ini.

“ Sudah 10 tahun lebih saya tinggal disini, mau pindah rasanya seperti sudah terikat dengan tempat ini. Sejak kecil saya tinggal disini ayah saya yang pensiunan AD juga tidak mau pindah ketempat lain baginya tempat ini sudah seperti tempat tinggal yang memiliki banyak kenangan. Meski banyak kekurangan disana sini tapi kami merasa tidak keberatan tinggal dibenteng,” ujar Sumiyati, salah satu warga yang menempati bangunan benteng pendem.

Benteng pendem terdiri dari beberapa bangunan yang terbagi dalam bangunan utama yang dulunya digunakan sebagai kantor pemerintahan. Namun kini bangunan tersebut hanya puing-puing sejarah karena tidak ada lagi bangunan yang berdiri kokoh ditempat tersebut. Salah satu bangunan yang terlihat hanya pilar-pilar penyangga berukuran besar yang terbuat dari beton.

Bangunan dua sisi bangunan benteng yang dihuni sebagai tempat tinggal. Untuk menghubungkan bangunan benteng disisi timur dan barat terdapat jembatan kayu yang harus dilewati ekstra hati-hati karena sudah terbilang reyot. Setelah puas mengelilingi bangunan benteng, wisatawan dapat turun tangga melalui tangga bagian barat. Tangga ini terbilang unik selain desain terbuat dari kayu jati yang masih kokoh, bentuk tangga tidak dibuat lurus melainkan sedikit melingkar 60 derajat yang membuat wisatawan harus turun perlahan-lahan.

Benteng Pendem Ambarawa

Benteng Pendem Ambarawa

Berkunjung ketempat bersejarah sama halnya seperti kembali merasakan kejayaan masa lalu dengan menyaksikan beragam bangunan yang masih dapat dijumpai setelah 2 abad berlalu.

Benteng pendem Ambarawa benteng tergolong benteng yang unik. Melihat catatan perjalanan sejarah tempat yang panjang hingga kini dijadikan tempat tinggal dan menjadi obyek wisata sejarah yang cukup potensial jika pemerintah setempat dapat memperbaiki dan membuat bangunan bersejarah ini tidak terlihat kumuh dan terkesan angker.

Leave a Reply